PIMPINAN WILAYAH
PEMUDA MUSLIMIN INDONESIA
PROVINSI SULAWESI SELATAN 2014 - 2018
~Isy Kariman Aumut Syahidan~

17 Agustus, Refleksi Indonesia Menuju Kemerdekaan Sejati

17 Agustus, Refleksi Indonesia Menuju Kemerdekaan Sejati
Oleh: Febye Triadi Akib

Indonesia yang telah memperingati hari proklamasi yang ke-70 kalinya, merupakan sebuah perjalanan panjang bagi bangsa ini, dari segala dialektika kebangsaan yang akhir-akhir ini telah sampai pada titik yang terendah bagi sebuah bangsa yang berkembang.

Dilihat dari sejarahnya. Dalam bidang ekonomi, pasca krisis moniter yang terjadi pada rezim orde baru, nilai tukar rupiah hingga saat ini terus mengalami penurunan sampai anjlok pada kisaran Rp. 13.000 / Dollar USA. Hal ini justru terjadi pada momentum yang tidak tepat, yaitu momentum saat-saat akan memperingati detik-detik proklamasi sebagai sebuah negara yang merdeka dari segala aspek sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Indonesia yang dilihat sebagai negara yang memeiliki banyak suku bangsa bahkan bahasa, berkembang menjadi negara yang mementingkan hajat hidup orang banyak. Indonesia kontemporer adalah sebuah miniatur dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Kenapa demikian? Alwi Rachman seorang budayawan dari Universitas Hasanuddin (UNHAS) dalam materinya di depan ratusan anak muda yang lumrah dikenal dengan sebutan “MAHASISWA” mengungkapkan kalau yang harus tetap dilestarikan dan tetap dijaga baik dalam bumi Indonesia ini adalah suku-sukunya.

Menurutnya, suku-suku yang ada dalam dalam naungan Indonesia adalah suatu karunia tersendiri. Suku yang diartikan sebagai suatu pondasi dari lahirnya dengara Indonesia. Suku secara sederhana diartikan sebagai bangsa yang kecil, dang bernaung di bawah negara. Itulah kenapa kemudian lahir istilah suku bangsa yang artinya pondasi dari sebuah negara / bangsa.

Kita mesti berterima kasih kepada sang Proklamator, bapak Ir. Soekarno yang telah menyumbangkan sebuah gagasan besar tentang Indonesia sebagai sebuah negara yang sangat menghargai suku bangsanya.

Untuk itu pula, secara historis Soekarno yang berguru pada Haji Oemar Said Cokroaminoto yang belakangan disingkat menjadi HOS Cokroaminoto dan dikenal dengan julukan “Jang Oetama”. Dalam banyak literatur menyebutkan bawa Soekarno pernah megatakan “Cokro adalah kiblatku” jika dilihat dari latar belakang kedua tokoh tersebut mereka adalah para bangsawan tanah Jawa pada masanya.
           
Jika kita merujuk dari segi bahasa, bangsawan adalah mereka yang terlahir dari darah biru atau sering dikenal dengan keturunan raja, dalam konteks jawa dikenal dengan keturunan nigrat, secara lokal sulawesi selatan tepatnya di tanah Bone sering dikenal dengan para Arung.

Pada awalnya bangsawan adalah keturunan yang memiliki harta serta terpandang dari segi akhlak dan perilaku. Serta di percaya memimpin dalam suatu daerah bahkan bangsa atau negara. Nah, Inilah yang hilang dari Indonesia kontemporer saat ini.

Belakangan ini, telah terjadi kasus yang sangat tidak mengenakkan yang terdengar di telinga kita yaitu kasus Tolikara, kasus yang menyangkut agama ini, dianggap sangat meresahkan dan sempat menjadi sorotan utama di setiap media cetak maupun online.

Yang menjadi hal yang sangat “seksi” untuk ditinjau ulang adalah kenapa kemudian hal yang menyangkut agama serta terjadinya miss komunikasi antara ummat beragama yang dijadikan alasan agar terjadinya referendum di Papua ? Hal yang satu ini mesti ditinjau ulang agar tidak merugikan suatu pihak maupun kelompok.

Dari kasus yang terjadi di atas. Serta kasus yang terjadi di Aceh pada tahun 2004 silam, adalah bukti kalau di dua sisi barat dan timur Indonesia seakan mengaum dan sangat terasa mencubit Negara Indonesia sebagai kumpulan dari banyak bangsa.

Kalau kita berani membongkar sejarah, perjuangan Indonesia merdeka yang diperjuangkan di semua pelosok negeri ini adalah adanya rasa yang sama, adanya rasa tertindas, terjajah di tanah sendiri serta adanya kesamaan penderitaan sehingga memunculkan pemberontakan rasa ingin merdeka di segala pelosok negeri.          

Akan tetapi, setelah 70 tahun Indonesia merdeka, rasa senasib dan sepenanggungan yang penulis paparkan tadi, sudah mulai luntur dan hilang akibat sebuah pembangunan yang tidak merata. “Auman dan Cubitan” yang terjadi di Aceh dan Tolikara seakan menandakan bahwa rasa senasib yang dulu diperjuangkan untuk merdeka telah luntur oleh sebuah pembangunan di setiap sektor yang tidak merata.

Contoh-contoh seperti inilah yang kembali harus dihadapi dan disikapi secara bijaksana dan tentunya adil, untuk memunculkan rasa nasionalisme yang tinggi di jajaran tunas muda para penerus bangsa. Hal yang mesti diwacanakan adalah adanya program-program yang melibatkan pemuda untuk membangun citra emas Indonesia menuju negara yang telah merdeka semata 70 tahun ini.

Rasa senasib dan sepenanggungang dari setiap suku di Indonesia menjadi PR besar bagi para penentu kebijakan, untuk terus memacu kinerja dalam setiap bidangnya masing-masing guna melakukan pelayanan yang baik bagi seluruh rakyat Indonesia.

Jikalau kita melihat dan memaknai kembali pancasila, disitulah jantung Indonesia sebagai negara dalam lima sila yang tentu sangat penting ditumbuhkan kebali agar bangsa-bangsa (suku-suku) yang ada di Indonesia dapat merasakan kembali nasib dan saling sepenanggungan bersama.

Terlepas dari semua itu, Indonesia yang memiliki banyak suku serta bahasa tersendiri, patut bangga karena memiliki bahasa pemersatu yaitu Bahasa Indonesia. Indonesia harus berbangga karena memiliki orang terbaik dalam setiap sistem bernegara.




Febye Triadi Akib | Staf Bidang Sosial Politik dan Otonomi Daerah PW Pemuda Muslimin Indonesia Prov. SulSel 2014 - 2018 | telp./sms/WA/Line: 085240003111 | PIN BBM: 58980523 | twitter: triadifebye | surel: triadifebi@gmail.com
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : TurungkaNews | PB PemudaMuslim | KasmanPost
Copyright © 2015. PW Pemuda Muslimin Indonesia Prov. Sulsel - All Rights Reserved
Template by Cara Gampang Published by Cargam Template
Proudly powered by Blogger